Minggu, 17 Maret 2013

Misteri Angka 13! (Unlucky? Lucky?)

Jari-jari lentik milik Juu-san atau yang biasa dipanggil dengan nama Ju itu mulai aktif bergerak menutup dan membuka kembali berulang-ulang, masih tetap tak percaya dengan hasil perhitungan neptu jawa angka kelahirannya sendiri ketika dirinya mengambil posisi duduk paling nyaman di bangku kantin sekolahnya. “Ju... kamu ngapain? Ngitung matematika a la anak kecil ya?” tegur Riri heran. “Ri... gimana ini? Hasilnya tetep tigabelas nih... sial banget gue.” “Yaelah! Ini semua kan gara-gara kamu doyan banget baca majalah Djaka Lodang tuh... jadi parno.” Riri cemberut melihat muka Ju yang hampir mewek. Ju lahir di hari Senin Pahing yang memiliki jumlah angka kelahiran tigabelas, angka yang sering disebut-sebut sebagai angka sial. Tapi anehnya, selama ini baik sejak lahir hingga sekarang Ju tak pernah sekalipun mengalami kesialan apalagi sampai beruntun. Justru bisa dibilang dirinya kerap beruntung, terutama di hari Senin yang sangat dibencinya itu. Riri menepuk bahu sahabatnya perlahan sambil tersenyum. Dia tahu Ju kebanyakan mempercayai yang aneh-aneh dengan mudahnya, untung saja gadis itu memiliki kesabaran tingkat dewa. “Ri...,” “Hng? Apaan Ju?” “Kalau gue lihat-lihat lagi nih, elo manis juga ya?” Nampan kayu yang tadi dipakai Riri untuk membawa makanan pesanannya di kantin, berhasil mendarat mutlak di muka Ju yang sebenarnya cukup lumayan ganteng. Kebiasaan yang mengerikan, reflek diberikan Riri ketika gadis itu dibilang manis oleh siapapun. Memang tindakannya kasar, tapi sesungguhnya gadis itu senang luar biasa. Debaran jantungnya tak kalah dengan suara langkah kaki para tentara jaman dulu yang sedang latihan baris-berbaris. “K-kok gue dipukul sih? Gue jujur tahu! Gue juga udah lama suka sama elo, sejak elo bilang kalau elo suka sama angka tigabelas waktu perkenalan diri di depan kelas.” Wajah Riri memerah semerah kepiting rebus. Sementara Ju menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh cinta, berharap gadis yang ditembaknya secara tak langsung menjawab IYA secara lantang. “Jangan bohong dong Ju, malu disini kan kantin sekolah.” Riri menutup wajahnya. “Ngapain coba gue bohong sama elo Ri, dosa. Jadi... elo mau kan nerima gue? Supaya angka tigabelas yang gue benci dan takuti jadi angka penuh romansa.” Riri makin malu dan wajahnya tambah panas, pasti makin merah. Kadang tak habis pikir kalau Ju, sahabat ganteng tapi koplaknya itu bisa berkata a la pangeran romantis. Ya ampun, mimpi apa Riri semalam? Dia juga sudah lama menyukai Ju, tapi dipendamnya sendiri karena sering melihat Ju jalan bareng teman-teman cewek hampir satu sekolahan. “Berapa Ju?” celetuk Riri tiba-tiba. “Apanya Ri?” “Berapa banyak cewek yang kamu goda dengan cara seperti ini?” “Hah? Maksud elo apaan sih Ri? Gue beneran suka sama elo, ampun!” Riri membalikkan badannya kemudian berlari masuk ke kelas tepat bersamaan dengan bel sekolah yang berbunyi. Ju terperangah, dia terdiam melihat kepergian Riri bahkan sampai tak sadar dilihat anak-anak lain yang ikut berdebar-debar di kantin melihat adegan unik yang diperankan dengan konyol oleh duo Ju dan Riri. . . Bel terakhir sekolah membuat para siswa siswi SMA Y berhamburan keluar kelas seperti kerumunan lebah, membuat malas Ju dan Riri untuk ikut keluar. “Ri... keluar yuk, udah lumayan sepi nih.” Ajak Ju sambil cengar-cengir. Riri menggeleng dan menghadapkan wajahnya ke arah jendela kelas. Rupanya Riri masih kepikiran tentang kejadian di kantin, bikin malu saja. “Elo marah ya gara-gara gue?” “Nggak kok, cuma pengen pulang ntar aja.” “Ya udah deh gue tungguin, kita pulang bareng ya?” Riri menggeleng. Kali ini dia berpikir kalau dia memang sial, mungkin sejak bertemu dengan seorang pemuda bernama Juu-san yang merupakan anak keturunan dari Jepang dan banyak berhubungan dengan angka tigabelas. Sebenarnya itu bukanlah alasan pasti bagi seorang Riri untuk menyalahkan Ju. . GLUDUK GLUDUK JEGLER!!! . Petir menggelegar, tanpa sadar Riri memeluk erat tubuh Ju sambil terisak. Ya... Riri takut pada petir. Ju terkesiap, jantungnya seakan meledak dan debarannya makin keras. “Ri-Riri... pulang yuk, sebelum hujan...,” tawar Ju, disambut dengan anggukan lemah dari gadis itu. Keduanya lalu berjalan keluar perlahan, bergandengan tangan. Ju takut terjadi apa-apa pada Riri tapi juga takkan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. “A-aku mau kok Ju.” “Hah? Elo mau apaan Ri?” “Yang tadi Ju, a-aku mau kok terima kamu jadi pacarku.” . DEG! . Ju menghentikan langkahnya kemudian berbalik ke arah Riri dan serta merta memandangi gadis itu perlahan sambil tersenyum. “HORE!!! I LOVE YOU ANGKA TIGABELAS!” Riri kaget sejenak, tapi kemudian dia tersenyum hangat. “Tapi aku nggak bawa payung lho Ju.” “Argh... sial!”

1 komentar: